Kamis, 21 Juni 2012

Kunci Sukses Digital Marketing



Digital marketing merupakan salah satu tren marketing yang paling hot dibicarakan saat ini. Banyak brand berlomba-lomba menggunakan digital marketing, meskipun demikian banyak pula brand yang gagal dalam menggunakannya. Salah satu cara untuk mengetahui kunci sukses digital marketing adalah dengan mempelajari case study digital marketing yang berhasil.

Salah satu contoh digital marketing yang berhasil adalah Tesco atau Home Plus di Korea Selatan. Pasar Korea Selatan merupakan pasar yang sukar untuk ditaklukkan, bahkan Walmart dan Carrefour pernah mengalami kegagalan saat masuk ke pasar Korea Selatan. Home Plus menghadapi tantangan yang berat untuk mendominasi pasar Korea Selatan.

Home Plus berambisi untuk mengalahkan E-Mart dan menjadi market leader di Korea Selatan. E-Mart memiliki jumlah toko yang lebih banyak daripada Home Plus. Kondisi ini memaksa Home Plus mengembangkan channel strategy yang berbeda dari E-Mart.
Home Plus mengadakan riset secara mendalam mengenai perilaku penduduk Korea Selatan. Dari hasil riset, penduduk Korea Selatan merupakan penduduk dengan tingkat produktivitas yang tinggi, dan berbelanja merupakan salah satu aktivitas yang dibenci, karena dianggap merupakan aktivitas yang menghabiskan waktu mereka.

Korea Selatan merupakan negara dengan penetrasi internet yang tinggi—82,7% dan 40 juta pengguna internet. Di tahun 2009, hanya ada 470.000 pengguna smartphone di Korea Selatan. Pada Maret 2011, jumlah pengguna smartphone sudah mencapai 10 juta dan meningkat menjadi dua kali lipat (20 juta pengguna) di bulan Oktober 2011.

Berdasarkan data-data ini, Home Plus melakukan inovasi pada channel strategy mereka. Home Plus tidak menggunakan strategi konvensional dengan menambah jumlah toko, namun mereka berinovasi menggunakan digital channel. Home Plus meluncurkan ide “Let the store come to people”. Ide ini diwujudkan dengan menciptakan virtual store di subway. Virtual store ini memiliki tampilan yang mirip dengan tampilan di supermarket. Konsumen dapat membeli barang yang diinginkan dengan melakukan scanning QR code melalui smartphone. Home Plus akan segera mengantarkan barang yang dibeli ke rumah mereka dalam waktu singkat.

Digital campaign ini dilakukan dari November 2010–Januari 2011. Selama campaign ini, penjualan online Home Plus meningkat 130%, jumlah member meningkat 76%, dan 10.287 konsumen mengunjungi mobile site Home Plus melalui smartphone. Home Plus juga menjadi nomor 1 untuk online market dan nomor 2 di offline market.

Kunci sukses digital marketing Home Plus:
1. Pemahaman Customer Behavior
Inovasi yang dilakukan oleh Home Plus, berdasarkan data riset mengenai customer behavior di Korea Selatan. Home Plus memperoleh insight bahwa  penduduk Korea Selatan sibuk dengan pekerjaan mereka sehingga tidak memiliki banyak waktu luang. Penduduk Korea Selatan menganggap bahwa aktivitas belanja di supermarket atau toko ritel adalah aktivitas yang menghabiskan waktu mereka. Home Plus juga menemukan bahwa penduduk Korea Selatan “terpaksa“ membuang waktu ketika menunggu subway. Home Plus mengubah aktivitas menunggu subway menjadi satu pengalaman belanja yang menarik dan efisien.

2. Pemahaman Tren Industri dan Teknologi
Home Plus memutuskan untuk menggunakan virtual store karena Korea Selatan memiliki penetrasi internet dan penggunaan smartphone yang tinggi. Home Plus bisa membuat mobile site yang nyaman dan canggih untuk mendukung pembelian secara online. Hasilnya jumlah online sales meningkat 130%.

3. Solusi Kreatif
Solusi yang diberikan Home Plus bukan sekadar membuat mobile site, display di subway, dan menggunakan QR code untuk online shopping. Home Plus menawarkan solusi untuk menghemat waktu belanja dan cara baru berbelanja yang berbeda dengan kompetitor.

Kunci sukses digital marketing dapat dibagi dalam dua bagian besar. 
Bagian pertama adalah perencanaan yang baik; dan bagian kedua adalah proses eksekusi yang excellent. Marketer harus memiliki pemahaman yang mendalam saat membuat digital marketing plan. Digital marketing plan bukan hanya berisi channel yang akan digunakan, pesan yang disampaikan, berapa follower atau fans yang ingin diperoleh. Digital marketing plan harus disusun berdasarkan informasi landscape industri, tren industri & teknologi, customer behavior, dan buying process. Informasi ini akan membantu marketer untuk mengidentifikasi masalah yang dianggap penting oleh konsumen, menentukan digital marketing tools yang diperlukan, membuat solusi kreatif untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Proses eksekusi digital marketing juga harus dilakukan secara excellent, karena rencana yang baik tanpa pelaksanaan tidak akan menghasilkan apa pun.

sumber Oleh: Rendi Peterson – Digital Marketing Consultant Frontier Consulting Group

Lima Penyebab Digital Marketing Belum Berkembang di Indonesia



Meskipun penetrasi internet terus meningkat di Indonesia, namun kanal ini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh para marketer di Indonesia. Padahal media ini merupakan sarana yang efektif untuk beriklan dan berkomunikasi dengan konsumen.

Belanja iklan online di Indonesia diperkirakan baru mencapai 40 juta dolar AS pada tahun 2010, atau hanya 1 persen dari total belanja iklan secara keseluruhan. Menurut Handi Irawan, Chairman Consulting Group, ada lima hal penyebab masih rendah belanja iklan online di Indonesia. Pemaparan Handi Irawan disampaikan dalam “Digital Marketing Conference 2011 di JW Marriott Hotel, Jakarta (10/8).

Apa saja penyebabnya?
Pertama, masih sedikitnya pengguna internet yang sophisticated.
Kedua, daya beli pengguna digital di Indonesia yang masih rendah.
Ketiga, minimnya pengetahuan tentang digital marketing dari para CEO dan CMO. “Digital bukan hanya tentang tools, apakah brand sudah punya akun Facebook atau Twitter, tapi juga butuh mindset dan perilaku dalam organisasi bisnis”, tandas Handi.
Keempat, masih lambatnya proses digitalisasi media konvensional menuju media digital.
Dan terakhir, belum adanya pengukuran yang jelas mengenai efektivitas digital marketing. “Sebenarnya bukan tidak ada, namun belum ada yang mau melakukannya. Padahal, pengukuran digital sangat mudah dibandingkan media konvensional,” jelas Handi.
Meski share belanja online nya masih kecil, Handi menegaskan tren digital marketing tidak bisa dibendung dan dalam lima tahun ke depan akan berkembang pesat di Indonesia.


 (Tony Burhanudin/www.marketing.co.id)

Minggu, 13 Mei 2012

Pancasila versi inggris








Pancasila is the ideological basis for the country of Indonesia. This name consists of two words from Sanskrit: penta meaning five and Sila means principle or principles. Pancasila is a formula and guidelines of national and state for all the people of Indonesia.


Five major joint authors of Pancasila is the Belief in God Almighty, just and civilized humanity, the unity of Indonesia, democracy led by wisdom of deliberation / representation, and social justice for all Indonesian people, and set forth in paragraph Preambule-4 (Opening) Act of 1945.


Despite the changes in content and sequence of five principles of Pancasila which took place in several stages during the formulation of Pancasila in 1945, June 1, celebrated as the birth of Pancasila.






  1. Belief in the one and only God
  2. Just and civilized humanity
  3. The unity of Indonesia
  4. Democracy guided by the inner wisdom in the unanimity arising out of deliberations amongst representatives 
  5. Social justice for the whole of the people of Indonesia




Pranala Luar : Wikipedia





The sukhoi crash


Thursday saw Russia's United Aircraft Corporation (UAC) lose 3.6 per cent on the Micex Moscow stock exchange. It has much to do with what happened 1700m up a craggy mountain thousands of miles away in Java. 
The new Sukhoi Superjet 100 was supposed to be the saviour of the Russian aviation industry, and nobody knows yet why the pilots made the deadly decision to take the demonstration plane down to below 2000m near Indonesia's Mount Salak, where it crashed.
But the faraway disaster likely left 50 passengers and crew dead and could spoil ambitions of newly reinstalled President Vladimir Putin, who is behind UAC's creation.
It was supposed to be one of the so-called "national champions" that will bring Mother Russia back to the greatness it once knew. 
UAC brought all of the country's state-owned aviation assets and manufacturers under one roof, with the idea of jumpstarting an economy that has not enjoyed any global share since the days of the USSR. 
Last year, Putin's right-hand man Dmitry Medvedev admitted with regret in a Kremlin Security Council meeting on aviation that Russia built just seven civilian aircraft in 2010. 
The Sukhoi Superjet 100 is a mid-haul passenger jet and is apparently good value for money at around $31 million per plane. A spokeswoman for the UAC, Olga Kayukova, said the aircraft was comfortable and spacious for its size for both passengers and crew. 
Most of the important parts are made by reputable foreign companies. The French made the avionics, Americans the wheels and brakes. Boeing has consulted on the plane.
Kayukova said there were no serious safety problems, though "some problems might not have been revealed through testing".
Superjet 100 does not appear to have been an easy bird to hatch. In February, Novayagazeta published an article pointing to spiralling production costs, paid for with massive state infusions of cash.
Many of the companies that have agreed to buy the aircraft are Russian airlines. Western airlines are noticeably absent from the order list. Alitalia pulled out of a $500 million deal for an order of Superjet aircraft and opted for Brazilian manufacturer Embraer because of delays in production. 
Alexander Golts, an industry expert, believes that Putin's UAC is a "Soviet parody" that fails in today's global market economy. 
"It's one of the biggest mistakes. In the Soviet Union there were a dozen military industrial ministries including the ministry of aviation. They all worked in a non-market situation. They were extremely ineffective," he said.
"At the end of the day, we have a plane. But it is more or less clear this plane will have tremendous problems with purchasers abroad."
Yet the Superjet 100 probably still has a future. If state-controlled UAC does follow the Soviet model, then just like in any classic planned economy, the project does not need to be commercially viable. It is the idea that counts. 
COMMENT :  Classic controlled descent into terrain. Bad weather, low altitude, high mountains, and an inept crew. It might be a problem with the pilot training culture in Russia. The USSR destroyed a perfectly good SST aircraft at the Paris Airshow because the pilot couldn't keep himself from "hotdogging" in front of a crowd. This seems more of the same.
It's likely a good aircraft with good bones. I understand the engine is having some minor shakedown issues common to a new design and the air con problem is pretty much addressed. But it's a decent aircraft that addresses the needs of the Asian marketplace. I hope they find the black boxes and are able to do an transparent analysis to show the reason.